Lampung, – Senin.16/03/2026, Menjelang datangnya Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, suasana kebahagiaan mulai terasa di tengah masyarakat. Berbagai persiapan dilakukan untuk menyambut hari kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Pusat perbelanjaan mulai ramai, masyarakat sibuk mempersiapkan kebutuhan Lebaran, dan harapan untuk berkumpul bersama keluarga menjadi momen yang sangat dinantikan.
Namun di balik suasana penuh suka cita itu, ada cerita yang jarang terdengar. Sebuah jeritan sunyi dari sebagian insan pers atau yang kerap disebut kuli tinta. Mereka tetap menjalankan tugas jurnalistiknya di tengah kesibukan masyarakat menyambut Lebaran, bahkan di saat sebagian orang mulai menikmati waktu bersama keluarga.
Profesi wartawan selama ini dikenal sebagai profesi yang mulia. Wartawan memiliki peran penting sebagai penyampai informasi kepada publik, mengawal kebijakan pemerintah, serta menjadi penghubung antara masyarakat dan pemangku kepentingan. Tanpa kehadiran wartawan, banyak peristiwa penting yang mungkin tidak diketahui oleh masyarakat luas.
Namun di balik peran strategis tersebut, realitas yang dihadapi sebagian wartawan tidak selalu seindah yang dibayangkan. Masih banyak jurnalis yang bekerja dengan kesejahteraan yang belum memadai. Bahkan tidak sedikit yang harus bekerja tanpa dukungan fasilitas yang layak, dengan penghasilan yang jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Menjelang Lebaran, situasi ini menjadi semakin terasa. Ketika kebutuhan keluarga meningkat—mulai dari kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, hingga tradisi mudik dan silaturahmi—sebagian wartawan justru harus bekerja lebih keras. Mereka tetap turun ke lapangan, meliput berbagai peristiwa, menghadiri kegiatan pemerintahan, hingga mengejar berita demi memenuhi tanggung jawab profesinya.
Ironisnya, di tengah dedikasi tersebut, tidak semua wartawan mendapatkan perhatian yang layak dari perusahaan media tempat mereka bekerja. Ada yang masih menerima honor minim, bahkan ada pula yang menggantungkan penghasilan dari pekerjaan tambahan di luar aktivitas jurnalistik.
Kondisi ini tentu menjadi refleksi bersama. Wartawan adalah pilar penting dalam kehidupan demokrasi. Mereka berperan mengawal transparansi, mengkritisi kebijakan, serta menyampaikan aspirasi masyarakat. Oleh karena itu, kesejahteraan wartawan seharusnya tidak lagi dipandang sebagai persoalan sepele.
Perusahaan media, pemerintah, serta berbagai pihak yang berkaitan dengan dunia pers perlu memberikan perhatian lebih terhadap kondisi para jurnalis di lapangan. Profesionalisme dalam dunia jurnalistik tidak hanya dituntut dari wartawan, tetapi juga harus diimbangi dengan sistem kerja yang adil dan kesejahteraan yang layak.
Menjelang Idul Fitri, jeritan sebagian wartawan ini bukan sekadar keluhan. Ia adalah pengingat bahwa di balik setiap berita yang dibaca masyarakat, ada kerja keras, dedikasi, dan pengorbanan dari para kuli tinta yang terus berjuang menjalankan tugasnya.
Sudah saatnya profesi wartawan mendapatkan penghargaan yang lebih nyata, baik dari sisi kesejahteraan maupun perlindungan kerja.
Dengan demikian, para jurnalis dapat menjalankan tugasnya secara profesional, independen, dan bermartabat, tanpa harus dihantui oleh persoalan ekonomi yang berkepanjangan.
Di tengah semangat Idul Fitri yang mengajarkan nilai kebersamaan, kepedulian, dan saling menghargai, semoga jeritan para kuli tinta ini dapat menjadi refleksi bersama.
Agar di masa depan, wartawan tidak hanya dikenal sebagai penyampai kabar bagi masyarakat, tetapi juga sebagai profesi yang dihargai dan dimuliakan secara nyata.
Tiras Grup














