Pringsewu, 28 April 2025 — Korps HMI-Wati (KOHATI) Cabang Pringsewu resmi dilantik dalam sebuah prosesi yang berlangsung di Taman Kuda Pringsewu, Senin (28/4). Momentum ini menandai dimulainya babak baru perjuangan KOHATI di Pringsewu dalam mengangkat isu-isu perempuan dan membangun kesadaran kolektif akan pentingnya keadilan gender.
Pelantikan ini bukan sekadar seremoni. Bagi jajaran pengurus baru, pelantikan menjadi komitmen awal untuk hadir lebih dekat dengan realitas yang dihadapi kaum perempuan.
Sekretaris Umum KOHATI Cabang Pringsewu. Risa Fannizar, menegaskan bahwa organisasi ini akan berdiri tegak di barisan terdepan untuk mendengarkan dan memperjuangkan suara-suara yang selama ini terpinggirkan.
“Kami bersama ketua umum siap menjalankan amanah organisasi, tidak hanya sebagai pengurus administratif, tetapi sebagai penggerak dan penjaga nilai-nilai perjuangan perempuan. Kami akan berpihak pada mereka yang tak lagi punya tempat untuk bersuara,” ujar Risa.
Lebih jauh, Risa menjelaskan bahwa salah satu fokus utama kepengurusan kali ini adalah membumikan isu-isu perempuan yang nyata dan aktual. KOHATI berencana mengangkat isu Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak (KTPA), serta kasus-kasus perundungan terhadap remaja putri yang belakangan makin marak, namun kerap kali disikapi dengan pembiaran.
“Kami tidak ingin organisasi ini hanya hadir di dalam ruang-ruang diskusi. Kajian memang penting, tapi keberanian untuk turun langsung ke masyarakat jauh lebih penting. Maka, kami akan hadir lewat edukasi, pendampingan, dan pelibatan aktif dalam persoalan keperempuanan di Pringsewu,” tambahnya.
KOHATI juga akan membangun sinergi melalui pelibatan narasumber kompeten dalam diskusi-diskusi terbuka, yang bertujuan menumbuhkan kesadaran kritis di kalangan kader maupun masyarakat umum. “Kami ingin membentuk karakter kader KOHATI yang peka, cerdas, penuh kasih sayang, dan siap menjadi pelindung sesama perempuan,” lanjut Risa.
Ia juga menyoroti bahwa hingga saat ini masih banyak perempuan di Pringsewu yang mengalami ketidakadilan struktural: mulai dari budaya patriarki, diskriminasi, hingga perlakuan yang merendahkan martabat. “Kami melihat banyak perempuan yang tidak diberi ruang untuk tumbuh. Maka, KOHATI hadir untuk menciptakan ruang yang aman, inklusif, dan mendorong perempuan agar berani menjadi versi terbaik dirinya tanpa rasa takut,” tegasnya.
Sebagai organisasi perempuan yang lahir dari rahim mahasiswa, KOHATI juga membuka pintu kolaborasi dengan berbagai pihak. Risa menyatakan kesiapannya untuk bersinergi dengan tokoh-tokoh perempuan, termasuk Wakil Bupati Pringsewu, Hj. Umi Laila, yang dianggap memiliki visi dan kepedulian yang sama terhadap isu-isu keperempuanan.
“Kami yakin, perubahan akan lahir dari kolaborasi. KOHATI tidak bisa jalan sendiri. Kami perlu bersama-sama dengan pemerintah, tokoh masyarakat, dan siapa pun yang peduli terhadap masa depan perempuan Pringsewu,” pungkas Risa.
Pelantikan ini adalah pijakan pertama. Tapi bagi KOHATI Pringsewu, ini adalah langkah besar untuk menyalakan gerakan yang lebih luas. Gerakan yang lahir dari empati, digerakkan oleh gagasan, dan ditujukan untuk perempuan yang selama ini bertahan dalam diam.
















